Hukum Cincin Kawin Dalam Islam

8 Februari 2009 at 3:02 am 61 komentar

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

[Mengutip konsultasi Hukum Cincin Kawin di situs eramuslim.com]

cincin-kawinAssalamu’alaikum wr. wb.>

Langsung saja pada inti pertanyaannya, apakah ada dasar hukumnya dalam Syariat Islam seorang suami memakai Cincin Kawin? Apakah Cincin Kawin (Tukar Cincin seteleh ijab-Qobul) itu juga Syariat Islam?

Terimakasih dan Wassalamu’alaikum wr. wb.

Hamdu


—|||—

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr Wb

Saudara Hamdu yang dimuliakan Allah swt.

Pernikahan didalam islam adalah ibadah dan sebagaimana ibadah-ibadah lainnya maka ia haruslah memenuhi dua rukunnya.

  • Pertama : Ikhlas semata-mata karena Allah swt.
  • Kedua : Mengikuti sunah Rasulullah saw.

Dua hal inilah yang dimaksud dengan amal yang terbaik didalam firman Allah swt:

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk : 2)

Rasulullah saw meminta kepada setiap umatnya untuk mengambil segala sesuatu yang berasal darinya didalam setiap ibadahnya sebagai bukti kecintaan mereka terhadapnya saw. Siapa saja dari umatnya yang mencintai beliau saw maka dia kelak bersama Rasulullah saw di surga.

Ketika seorang muslim tidak mengambil sunnahnya dan justru mengambil cara-cara yang bukan berasal darinya, baik secara sadar atau tidak sadar maka dia telah menganggap apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya tidaklah lebih baik darinya. Firman Allah swt:

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al Maidah : 50)

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas ra:

bahwasanya ada beberapa orang dari sahabat mendatangi Nabi saw sebagian mereka mengatakan,”Aku tidak akan menikahi wanita.’ Sebagian lagi mengatakan,’Aku tidak akan makan daging.’ Dan sebagian lagi mengatakan,’Aku tidak akan tidur diatas tikar.’ Sebagian lagi mengatakan,’Aku akan puasa dan tidak berbuka.’ Maka berita itu sampai ke Rasulullah saw kemudian bersabda,’Celakalah kaum yang mengatakan ini dan itu, sesungguhnya aku mengerjakan shalat, aku berpuasa dan berbuka dan aku menikahi para wanita. Dan barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku maka ia bukanlah dari golonganku.” (HR. Bukhori Muslim)

Adapun mengenai cincin perkawinan yang sudah menjadi kebiasaan bahkan cenderung dianggap sebagai hal yang mendasar didalam suatu acara tunangan atau pernikahan maka sesungguhnya bukanlah berasal dari islam.

Penggunaan cincin didalam acara perkawainan ini sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu yang merupakan tradisi didalam agama Yunani dan Romawi kuno yang dianggap sebagai simbol cinta kasih antara laki-laki dan perempuan. Cincin ini kemudian diadopsi dan dikembangkan di eropa (barat) dari mulai model hingga bahan pembuatannya.

Oleh orang-orang Eropa cincin ini pernah dimodifikasi menjadi bentuk-bentuk lainnya seperti kunci dan piramida. Adapun bahan pembuatannya juga mengalami perkembangan dari sekedar lempeng besi menjadi kuningan dan perunggu. Sedangkan para bangsawan dan raja-raja di Eropa menggunakan berlian sebagai bahan pembuatan cincin. Dan akhirnya yang berkembang dan menyebar di masyarakat dunia pada umumnya adalah cincin yang terbuat dari emas atau platinum.

Ada yang mengatakan bahwa pengenaan cincin perkawinan di jari manis adalah kebiasaan orang-orang Cina dengan keyakinan bahwa ibu jari adalah sebagai simbol orang tua, telunjuk adalah simbol kakak dan adik, kelingking adalah simbol anak-anak sedang jari manis adalah simbol suami istri yang akan selalu bersatu selama hidup.

Kesimpulan ini mereka ambil dengan cara yang sangat sederhana yaitu, apabila kedua telapak tangan seseorang dibuka dan jari-jemari yang ada ditangan kanan disentuhkan dengan jari-jemari yang ada di tangan kiri (ibu jari bertemu dengan ibu jari, telunjuk bertemu dengan telunjuk begitu seterusnya kecuali kedua jari tengah yang dilipat bersentuhan) dan jika jari-jemari itu satu-persatu diangkat dan ditutup kembali maka semua jari bisa melakukannya kecuali jari manis.

Nah.. semua jari yang bisa diangkat dan ditutup kembali itu diartikan sebagai simbol untuk orang-orang sekelilingnya yang akan pergi sedangkan jari yang tidak bisa diangkat (jari manis) adalah simbol untuk suami istri yang akan langgeng selamanya.

Jadi penggunaan cincin didalam suatu acara perkawinan bukanlah berasal dari islam. Dan Rasulullah saw bersabda:

Siapa yang meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum itu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Islam memiliki ciri dan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan agama dan budaya selainnya. Karakteristik dan ciri islam adalah karakteristik ilahiyah yang senantiasa mengingatkannya akan kemuliaan Sang Penciptanya. Karakteristik yang tidak membuatnya lalai dari mengingat Allah swt sehingga ia dinilai sebagai suatu ibadah dan mendapatkan pahala dari Allah swt.

Kalau seandainya mereka yang mengatakan bahwa penggunaan cincin dalam perkawinan juga berasal dari islam berdasarkan hadits Rasulullah saw kepada salah seorang sahabatnya:

Berikanlah mahar, meskipun hanya sebuah cincin besi.” (HR. Bukhori)

maka tidaklah tepat karena hadits ini berkaitan dengan mahar seorang yang ingin menikah.

Imam Bukhori memasukan hadits ini kedalam Bab Mahar dengan Barang dan Cincin Besi. Artinya bahwa seseorang yang ingin menikah sedang ia tidak memiliki kemampuan dalam menyediakan maharnya maka ia diperbolehkan memberikan mahar walaupun hanya berupa cincin besi atau sesuatu yang tidak seberapa harganya.

Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

[Sumber: eramuslim.com]


» Kembali Ke Halaman Depan

Bookmark and Share

Entry filed under: Artikel Islam, Islam. Tags: , , , .

Renungan untuk suami: Bila Istri Cerewet Bising Diwaktu Orang Sedang Shalat

61 Komentar Add your own

  • 1. Trisna  |  8 Februari 2009 pukul 4:09 am

    Wah bingung jg kalau gini, padahal cincin kawin itu dipakai (khususnya) oleh suami supaya si suami ga selingkuh.

    Balas
  • 2. Vera  |  9 April 2009 pukul 7:36 pm

    Suami selingkuh? Itu mah gak tergantung sm cincin dijari. Tp keteguhannya pd agama serta kekuatan iman&cintanya.. Takut gak sm dosa? Gitu aja si.. Tp..siistri jg hrs bs nyenengin suami dirmh..kan udh diblg diagama islam..istri klw didpn suami bersikap bagaikan “wanita penggoda”.. Klw udh gt..dijamin d..suami gak akan selingkuh

    Balas
  • 3. adhy  |  28 April 2009 pukul 3:31 pm

    wah untung calon istri saya maharnya minta cincin, ya udah tinggal beliin aja kan. gampang aja kan

    Balas
  • 4. farid  |  27 Juni 2009 pukul 9:15 pm

    Jadi Bingung nih…..
    Ada solusi ga?
    Padahal tadinya ke warnet untuk cari model Cincin, eh tapi malah dapet pengetahuan seperti ini…..
    mau ga ya calon istriku…

    Balas
    • 5. Herman S.Y  |  28 Juni 2009 pukul 10:35 pm

      @farid

      Untuk wanita tidak masalah memakai cincin, tetapi bagi kaum pria, itu yg dilarang…

      Ehm… beli aja satu buah, sekalian ngirit… :lol:

      Balas
    • 6. difa  |  15 Agustus 2012 pukul 12:59 pm

      calon istri yg baik n sholehah,, akan menerima apapun yg diberikan oleh suaminya,,,
      sekarang banyak kok yg maharnya gak perlu cincin,,, beliin aja LOGAM MULIA seberat gram cincin,,
      lebih afdhol tuh kayaknya… :-)

      Balas
  • 7. miftah  |  23 Juli 2009 pukul 4:45 pm

    Cucok boo…………………………..
    Ngapain ikut2an budaya jahilliyah&tidak sesuai tuntunan Rosul SAW, Betul????????
    Islam itu mempermudah kenapa dipersulit????

    Balas
    • 8. Herman S.Y  |  25 Juli 2009 pukul 12:35 pm

      @miftah

      Islam itu memang mempermudah, tetapi kebanyakan orang msh blum bisa menafsirkan agama Islam itu sendiri…

      Balas
  • 9. Diamond Lover.  |  11 Agustus 2009 pukul 6:50 pm

    Kalo laki2 menberikan cincin berlian untuk calon istri-nya itu wajar koq itu tanda-nya si laki2 itu cinta banget sama si calon istri!.

    Balas
    • 10. Herman S.Y  |  12 Agustus 2009 pukul 1:38 am

      @Diamond Lover.

      Laki2 memberikan cincin berlian untuk calon istrinya itu memang di perbolehkan kok dalam islam, karena itu udah termasuk mahar, tetapi disini yang ditekankan adalah, “haram hukumnya dalam islam, laki2 memakai cincin, meskipun itu tanda bahwa dia sudah menikah”. Karena perhiasan hanya boleh dipakai oleh kaum wanita.

      Jadi, jika laki2 ingin membelikan cincin, itu wajar & sah2 saja. ^_^

      Balas
      • 11. Rahman  |  15 April 2012 pukul 11:17 am

        belasan hadits riwayat shahih Bukhari dan Shahih Muslim yg menjelaskan bahwa Nabi saw memakai cincin perak, dan beliau saw memakainya di kelingkingnya, demikian pula para sahabat menggunakannya, dan menggunakan cincin perak bagi pria hukumnya sunnah, yg diharamkan bagi pria adalah cincin emas.

        sumber : http://almuhibbin-almuhibbinsalaf.blogspot.com/2008/09/hukum-cincin.html

        Balas
        • 12. Herman S.Y  |  2 September 2012 pukul 9:00 am

          @Rahman:
          Betul bro… konteksnya untuk laki2 dalam menggunakan cincin (ataupun cincin kawin)
          Dan tambahannya yaitu konteks dalam mahar (pernikahan) itu sendiri… ;)

          Balas
  • 13. Hamdi Blay  |  1 September 2009 pukul 10:30 am

    Lebih baik kita belikan istri cicin berlian sebagai tanda cinta suami beserta perhiasan. kalau laki2 mah ngg usah pake ap2 lah

    Balas
    • 14. Herman S.Y  |  2 September 2009 pukul 9:54 pm

      @Hamdi Blay

      Setubuh eh setujuuuuu…. ^_^

      Balas
  • 15. Saifullah  |  2 November 2009 pukul 5:24 pm

    Simbolik…

    Agar ikrar lisan tadi ada wujudnya,

    Balas
  • 16. dedy saputra  |  25 November 2009 pukul 10:05 am

    Asslmkm.

    Mas aku numpang copas artikelnya ya.

    Terima kasih

    @dedy saputra
    walaikum salam….
    Yupz silahkan…. ^_^

    Balas
  • 17. elvi  |  7 Januari 2010 pukul 8:46 am

    cincin ni brp harganya???

    Balas
    • 18. Herman S.Y  |  9 Januari 2010 pukul 12:55 pm

      @elvi:

      Cincin yg mana ya mba?

      Balas
  • 19. Herman S.Y  |  9 Januari 2010 pukul 12:54 pm

    @elvi:

    Cincin yg mana ya mba?

    Balas
  • 20. rien  |  18 Januari 2010 pukul 9:34 am

    tapi, co blh koq pke cincin perak. kyknya pernah bca Rasllh pernah pke cincin perak. dan diikuti oleh shbtnya..
    agh, aku pgn co q pke cincin.. jd klo ad ce yg mau deketin dy, g brani..
    binun, binun, binun

    Balas
    • 21. Herman S.Y  |  18 Februari 2010 pukul 1:44 am

      @rien:

      Pernyataan dari mba rien:

      “aku pgn co q pke cincin.. jd klo ad ce yg mau deketin dy, g brani..”

      Hmmm… “co” disini maksudnya suami atau hanya sebatas pacar?

      Kalau sebatas pacar, wah saya ngga bisa komentar ya mba.
      Tetapi kalau “suami”, begini ya:

      Saya sih ga kan panjang lebar ngejelasinnya, cuma satu kok:

      –> Ikuti rukun pernikahan yg pertama yaitu:
      “Ikhlas semata-mata karena Allah swt.”

      ^_^

      Balas
  • 22. roq  |  15 Februari 2010 pukul 7:29 pm

    ada yang tau gak,cincinnya pesannya di mana yahh….

    Balas
    • 23. Herman S.Y  |  18 Februari 2010 pukul 1:45 am

      @roq:

      Search di google aja. ada kok…. ;-)

      Balas
  • 24. kitong  |  16 Februari 2010 pukul 2:06 pm

    kalo perempuan udah nikah, tapi gak pakai cincin hukumnya gimana?

    Balas
    • 25. Herman S.Y  |  18 Februari 2010 pukul 1:48 am

      @kitong:

      Di dunia barat atau sekarang sama halanya di lingkungan sekitar kita, cincin itu hanya sebagai simbol/penanda terhadap manusia yg lainnya kalau seseorang tsb telah menikah.

      Kalau terhadap Allah SWT bagaimana? apakah harus memakai cincin?

      Subhanallah, Maha Suci Allah.
      ^_^

      Balas
  • 26. shoniz  |  4 April 2010 pukul 5:45 pm

    ikuti saza sunnah rosul yg sesuai dg yg dlm alqur”an dan hadist

    Balas
  • 27. Rury Yuniarty  |  14 April 2010 pukul 3:20 pm

    ass… gini…. aq msi pcrn n rencana calon suami aku itu mau kasi aq cincin,,tpi bukan tunangan krn kan tunangan ga ada dlm islam, nah itu hanya sebagai simbol aja klo dia serius mau nikah sm aku, ortu sih setuju2 aja,, trs gmn hukumx?

    Balas
    • 28. Herman S.Y  |  17 April 2010 pukul 1:23 pm

      @Rury Yuniarty:

      Walaikum salam warahmatullah…

      Istilah “Tunangan” memang bukan dalam islam, tetapi bukan berarti dalam islam itu dilarang, yang dilarang itu selama merugikan satu sama lain. ^_^
      Intinya, 2 pasangan sudah saling melihat wajah dan menyukai satu sama lain.

      Diberikan sebuah cincin itu sebenarnya untuk menandakan bahwa dirinya Insya Allah akan dilamar melalui jenjang pernikahan.
      Jadi mau diberi cincin atau tidak asalkan kalau keduanya memang telah siap lahir dan bathin untuk menikah dengan niat Lillahita’ala Insya Allah dengan ridho Allah akan terlaksana.

      Jadi, Istilah tunangan, tuker cincin, ataupun yg lainnya selama tidak saling merugikan ya silahkan saja, yang dianggap serius itu nanti jika kedua belah pihak telah menyiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan pernikahan dengan pasti atas ridho Allah Azza wazzala… ^_^

      Wassalam…

      Balas
  • 29. Rury Yuniarty  |  17 April 2010 pukul 2:03 pm

    Oh gitu,, jg tdk apa2 ya? sy takut dosa menerimax,, sy jugga menjalani hubungan jarak jauh, makax ingin cepat mnikah,

    >> Oya kalo sy memakai cincin emas bagaimana dgn calon suami saya? harus diganti dengan apa, supaya ada simbol djarinya, Kan dlm islam laki2 tdk boleh memakai perhiasan,, terima ksih byk atas msukanx,

    Smoga apa yg kita lakukan selalu diberkahi oleh Allah Swt,,Amin !!!

    Balas
    • 30. Herman S.Y  |  26 April 2010 pukul 7:50 pm

      @Rury Yuniarty:

      Tidak apa2 jika ingin tunangan dulu. Masalah dosa atau tidak ya itu Kehendak Allah Azza Wazzalla, yang pasti akan berdosa jika janjinya dilanggar, hehe kan dalam proses pertunangan tersebut ada ikatan perjanjian yang Insya Allah akan melamar. :-p

      “Oya kalo sy memakai cincin emas bagaimana dgn calon suami saya? harus diganti dengan apa, supaya ada simbol djarinya, Kan dlm islam laki2 tdk boleh memakai perhiasan,,”

      Jawab: Waduh memakai apa ya. Hmmmm kalau menurut saya, di hati calon suami mba aja yg dipakai perhiasan, yaitu dengan “dzikir mengingat Allah.“. Insya Allah calon suami mba adalah lelaki yang setia, penyayang, dan penuh dengan rasa tanggung jawab.

      ^_^

      Balas
  • 31. permata_Q  |  26 April 2010 pukul 11:50 am

    itu cuma sebagai simboL kLo suami istri sudah ada ikatan satu sama Lain..jd kenapa diharamkan untuk Laki2..??

    Balas
    • 32. Herman S.Y  |  26 April 2010 pukul 7:42 pm

      @permata_Q: Memang hanya sebagai simbol. Saya kasih contoh ya:
      *Perhiasan : sebuah barang yang biasa digunakan, bisa di leher, lengan, jari ataupun pergelangan kaki.

      Nah, perhiasan tersebut identik dengan apa?
      jawabnya: Kaum Perempuan.

      Sebenarnya ada keterangan hadistnya, (Maaf saya lupa) yg menjelaskan mengenai penggunaan perhiasan. Dan ada pula batasannya untuk kaum laki2.
      Yang paling utama adalah haram hukumnya laki2 menggunakan perhiasan yang terbuat dari emas.

      Jangankan laki2, orang islam aja dilarang makan menggunakan sendok ataupun piring yang terbuat dari emas. ^_^

      Lagipula, apakah disebut simbol bisa menjamin bahwa laki2 bakalan selingkuh? Toh bisa saja diluar rumah cincinnya di lepas. :-p

      “Cukup dengan kesadaran dari laki2nya saja bahwa dia sudah beristri atau dengan mengingat Allah Azza Wazzalla” ^_^

      Balas
  • 33. Hendra  |  3 Mei 2010 pukul 2:02 am

    klo lo sanggup ya beli, gak sanggup ya g usah…. klo lu dah bli trus hidup lo susah, ya jual…. gampang kan…. baju, celana, mobil, motor… jg belum tentu kaum agama kita yg buat koq… itu boleh di pake loh. sedang kaum kita dulu pake onta, lo mau pake onta pergi kerja??? islam fleksible pak, tinggal niat loe aja yang jalaninnya baik apa enggak….. g boleh emas pake perak, klo punya duit ya pake platina…. banyak jalan koq pada pusing amat sech…..

    Balas
    • 34. Herman S.Y  |  3 Mei 2010 pukul 10:43 am

      @Hendra:

      Wah pemikiran ente boleh juga brur, tapi sayang ada beberapa pemikiran seperti itu yang menurut saya adlah pemikiran yang sempit.
      Kenapa, hmmm ane analisa satu per satu ya komentar ente:

      klo lo sanggup ya beli, gak sanggup ya g usah

      Pemikiran yang bagus, seperti layaknya naik haji, bagi yang sanggup silahkan, bagi yg ga juga ga pa pa. Dalam postingan ini, untuk masalah “Mas Kawin” tidak diharuskan Mas Kawinnya itu berupa cincin, bisa berupa yang lain.

      “klo lu dah bli trus hidup lo susah, ya jual…. gampang kan”

      hiudp susah itu tergantung dari manusianya itu sendiri, Allah sudah mengatur sebahagian rezeki untuk manusia. jadi tinggal manusianya itu sendiri yang harus giat dalam mencari nafkah, soal jual barang kalau lagi susah, ga harus kok, kalau kepepet sebahagian orang memang menjual barangnya.


      “baju, celana, mobil, motor… jg belum tentu kaum agama kita yg buat koq… itu boleh di pake loh.”

      Hmmmm… pemikiran seperti ini ni yang menurut saya adalah pemikiran yang sempit….
      “Baju/celana belum tentu kaum agama kita (islam) yg buat?”
      Salah besar, semenjak nabi adam dan hawa di ciptakan pun nabi adam dan hawa telah di beri pakaian oleh Allah Azza wazzala, di kirim ke bumi pun memang tidak memakai pakaian, tetapi Allah dengan kasih sayangnya mengajarkan nabi adam dan hawa (dan seterusnya untuk keturunannya) untuk membuat pakaian.
      Memang jaman sekarang kebanyakan pabrik2 garment pun mayoritasnya yang punya bukan dari kalangan umat muslim, tetapi apakah ilmu atau teknologi nya itu berasal dari kalangan/golongan non muslim?
      Seperti halnya mobil/motor, ide pembuatannya bukan berasal dari kalangan muslim, tetapi mereka(non muslim) mendapatkan ide tersebut dari mana? misal mobil yang berbahan bakar minyak bumi, dulunya masih menggunakan unta, kuda, gajah, seiring dengan perkembangan jaman ya berubah. Atau pesawat terbang, mereka mendapatkan ide tersebut dari mana, kalau ga da burung ya ga mungkin manusia bisa mempunyai ide untuk membuat alat transportasi yg bisa terbang.
      Kalau ente membaca sejarah, teknologi itu semuanya dari Islam, dulunya itu non muslim belajar dari islam, dengan berjalannya hari mereka mengembangkan ide/ilmu baru atau bahkan mencuri ilmu/manuskrip dari islam atau bahkan mengaku-ngaku. Ya seperti contoh pencuri tsb adalah Einstent, pakar fisika ternama.

      Hmmmm atau ga usah besar2, misal Atlas (peta bumi)? ente tahu tidak pembuatan atlas itu bermulanya dari mana?
      Mungkin ente jawab dengan teknologi sekarang yang manusia sudah bisa keluar angkasa.
      Hehehheheh jawabnya kurang, teknologi atlas itu berasal dari kerajaan Turki (saya lupa tahun berapa dan siapa namanya), yg pasti pada masa kerajaan turki tsb manusia blum bisa terbang atau keluar angkasa. Bingung kan? sama ane juga bingung… :-p

      Ane sih ga maksa anda mau percaya apa ga, kalau ingin mencari bukti nya silahkan anda cari sendiri, mudah2an Allah memberikan jalannya.

      “sedang kaum kita dulu pake onta, lo mau pake onta pergi kerja???”

      ya itu waktu jamannya sebelum ada alat transportasi berbahan bakar minyak, misal mobil, motor ada pada jaman nabi, ya pasti lah mereka menggunakannya.

      “islam fleksible pak, tinggal niat loe aja yang jalaninnya baik apa enggak….. g boleh emas pake perak, klo punya duit ya pake platina…. banyak jalan koq pada pusing amat sech…..”

      Islam bisa dibilang fleksibel, tetapi semunya itu tetap harus mempunyai aturan dan tata cara. Seperti halnya anda berkendara, pasti ada aturan2 lalu lintas yang harus di patuhi. Sama halnya dalam Islam, Allah memberikan aturan/tata cara melalui Islam yang kesemuanya itu untuk manusianya itu sendiri, karena Allah Maha Tahu.
      Manusia itu mempunyai nafsu, berbeda dengan malaikat, kenapa bisa begitu misal, malaikat disuruh ini, itu oleh Allah ya malaikat nurut, bagaimana dengan manusia? Nah manusia kan punya nafsu, nah nafsu kemudian di goda oleh Syaitan, kemudian nafsu akan memerintahkan otak manusia apakah akan melakukan atau tidak.

      Oleh karena itu lah Allah memerintahkan (dalam arti memberikan wejangan) manusia untuk menjaga nafsunya. Saya sih ga kan panjang lebar ngebahas maslah nafsu, coz di Al Quran sendiri udah jelas buktinya.

      Jadi, boleh saja ente berfikiran dengan logika, saya pribadi pun jika berfikir selalu ke logika, tetapi tetap semuanya itu kembali ke Islam.
      Teknologi, ilmu, sains dll, semuanya itu hanya “Bi’dah (perumpamaan) nya dunia”. Selama masih memberikan manfaat, ya gunakanlah, tetapi kalau kebanyakan mudharat ya tinggalkan.

      Jadi dalam kasus masalah postingan ini, sebenarnya jangan dilihat dari sanggup atau tidaknya membeli, tetapi keihklasan hati kita dengan ridho Allah Azza wazzala bahwa kita mengikuti sunnah nabi yaitu “menikah”, dan setelah menikah di hati kita itu mengakui bahwa kita sudah menikah, arti kata jangan melihat manusia dari cincin saja bahwa dia sudah menikah atau belum, cincin itu bukan jaminan bahwa seseorang tsb akan selingkuh atau tidak, jaminannya adalah hatinya. Maka dari itu ane pribadi banyak memberikan sedikit saran kepada yang telah berkomentar, “Perbanyaklah dzikir (mengingat Allah Azza wazzala)”….

      akhir kata, ane bukan bermaksud marah atau terkesan sok gimana, cuma ingin membuka fikiran bung Hendra sahaja. ^_^
      Semoga segala sesuatu yang kita perbuat mendapatkan ridho dari Allah Azza wazzala…. Amin ya robbal’alamin.

      Maaf jika ada salah kata atau yang kurang berkenan, teguran dan masukan sangat berarti buat ane.
      Wassalammu’alaikum warahmatullah….

      Balas
  • 35. seenta  |  1 Juni 2010 pukul 3:01 pm

    Assalamualaikum…..
    maaf..mau tanya lagi…biar jelas…hehehehe
    jadi…intinya….bahkan ketika cincin kawin itu bahannya diganti dengan perak ga boleh ya?haram juga hukumnya?
    aq sih bukan orang yg meributkan apakah calon suami nanti harus pake cincin apa ga..cuma supaya dia nanya kenapa jangan pake cincin, bisa ngejelasin gt…
    makasih ya…
    Assalamualaikum…

    Balas
    • 36. Herman S.Y  |  2 Juni 2010 pukul 11:03 am

      @seenta:

      Walaikum salam warahmatullah….

      Laki2 boleh memakai cincin asalkan tidak terbuat dari emas ataupun besi. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun pernah memakai cincin yang terbuat dari perak.
      Sebenarnya maksud dari larangan laki2 memakai perhiasan itu ditujukan sebagai peringatan, bukan hanya menyerupai perempuan (khususnya laki2 yg memakai cincin emas) (atau seperti komentar balasan yg sbelumnya saya jelaskan), intinya sebenarnya dalam masalah Gaya Hidup (bermewah2), atau Kesombongan diri.
      Itulah yg harus dihindarkan bagi laki khususnya dalam berpakaian ataupun menggunakan perhiasan. ^_^

      Sama halnya dengan perempuan, perempuan dihalalkan memakai perhiasan, tetapi ada yg harus diperhatikan, jangan sampai berlebihan. Heheh maklum kalau udah berhubungan dengan gaya hidup, sifat Riya (kesombongan, ingin diperhatikan orang) itu terkadang bikin manusia lupa diri… :-p

      Intinya (Dari komentar balasan saya sebelumnya):
      Mau memakai cincin (yg bukan terbuat dari emas/besi murni) atau tidak bagi seorang laki2, kalau hatinya tidak ada hijab (penutup) bagi Allah, Insya Allah dia akan setia selamanya. (Arti kata selalu mengingat Allah Azza Wa Jalla)…. ^_^

      Untuk info seputar larangan cincin bagi laki2, mba bisa lihat di:
      * Halal dan Haram dalam Islam
      * Larangan Memakai Cincin dari Besi Murni

      Wassalammu’alaikum warahmatullah….

      Balas
  • 37. iwan  |  24 Juni 2010 pukul 9:25 pm

    pa ustad, jika ada seorang suami menjual mas kawin atas persetujuan istrinya, dengan tujuan mebeli sebidang tanah , bagaimana hukumnya,,,??? mohon jawabannya.
    terimakasih

    Balas
    • 38. Herman S.Y  |  28 Juni 2010 pukul 7:42 pm

      @iwan:

      Waduh ane bukan Ustadz gan, dosa masih menumpuk laksana gunung…. ;-)

      Back to topic:
      Jawab: Insya Allah boleh dalam Islam, asalkan Mas Kawinnya berupa barang, jika Mas Kawinnya berupa ayat2 Al Quran, itu tidak boleh. Karena Ayat2 Al Quran tidak boleh di perjual belikan.
      Intinya, Mas Kawin itu sudah menjadi hak dari Sang Istri. Jika Suami ingin menjual Mas Kawinnya, ya harus atas persetujuan Sang Istri Pula. Ataupun sebaliknya, jika Sang Istri ingin menjual Mas kawinnya, meskipun Mas Kawin tsb sudah menjadi haknya, sudah sepantasnya untuk menghormati Sang Suami, Sang Istri harus meminta izin terlebih dahulu. Oiya, itu jika kondisinya benar2 tidak akan merugikan ya, arti kata penjualan tsb bukan untuk yang negatif…
      Jikalau menjual Mas Kawin itu dilarang, kebanyakan itu adalah bawaan dari kebiasaan adat-istiadat. (^_^)

      nb: Maaf ya baru bls sekarang… (^_^)

      Wassalam…
      Jazakumullah…. ^_*

      #Ralat :

      “jika Mas Kawinnya berupa ayat2 Al Quran, itu tidak boleh.”
      –> Mas kawin berupa ayat2 Al Quran boleh. Saya pernah baca (Maaf saya lupa referensinya), di perbolehkan memberikan berupa mahar ayat2 Al Quran dengan tujuan mengajarkan calon istrinya jika calon istrinya tsb tidak bisa membaca Al Quran.

      Karena Ayat2 Al Quran tidak boleh di perjual belikan.
      –> Pernyataan ini jika dijelaskan bisa panjang lebar uy… ;) kita kembalikan saja masalah ini kepada Allah… ;)

      Balas
      • 39. difa  |  15 Agustus 2012 pukul 1:15 pm

        ada ayat al-qur’an atau hadist gitu pak yg bisa memperkuat pernyataan ini?

        Balas
        • 40. Herman S.Y  |  2 September 2012 pukul 8:43 am

          Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (Surat An-Nisā’ :4).

          Insya Allah referensi link ini bisa memberikan jawabannya. ;)

          Balas
      • 41. abdurrohman  |  6 Maret 2013 pukul 7:29 am

        Assalaamu’alaikum,
        Mahar dgn ayat2 Al Quran. Hadits berikut bisa dijadikan rujukan Insya Allah:
        Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah mengatakan kpd salah seorang sahabatnya:
        “Wahai fulan, apakah engkau telah menikah?”

        “Belum, ya Rasulullah, krn aq blm mempunyai modal yg dpt aq pergunakan utk menikah.”

        “Bukankah engkau hafal Qul Huwallahu Ahad?”

        “Ya.”

        “Ia itu sama dg 1/3 Al-Qur’an. Dan bukankah engkau jg hafal Idzaa Jaa’a Nashrullahi wa Al-Fath?”

        “Ya.”

        “Ia sama dg 1/4 Al-Qur’an. Dan apakah engkau jg hafal Qul Yaa Ayyuhal Kafirun?”

        “Ya.”

        “Ia sama dg 1/4 Al-Qur’an. Dan apakah engkau hafal Idzaa Zulzilatil Ardhu?”

        “Ya.”

        “Ia sama dg 1/4 Al-Qur’an.”

        Akhirnya beliau berkata:
        “Menikahlah, menikahlah.”
        [HR. At-Tirmidzi, dia menghasankan hadits ini]

        Balas
  • 42. AYKANA  |  6 Juli 2010 pukul 12:49 pm

    PERNIKAHAN HANYA SEKALI SEUMUR HIDUP, CINTA SEJATI DIBAWA MATI, JADI APA SALAHNYA MEMPUNYAI CINCIN PERNIKAHAN YANG INDAH TAPI SESUAI DENGAN KEMAMPUAN

    Balas
    • 43. Herman S.Y  |  9 Juli 2010 pukul 10:56 pm

      @AYKANA:

      “PERNIKAHAN HANYA SEKALI SEUMUR HIDUP, CINTA SEJATI DIBAWA MATI”
      Jawab: Hehehe maybe yes… maybe no… gimana Gusti Allah aja… ^_^

      “APA SALAHNYA MEMPUNYAI CINCIN PERNIKAHAN YANG INDAH TAPI SESUAI DENGAN KEMAMPUAN”
      Jawab: Hehehe silahkan bro… ga ada yg ngelarang, tapi bahannya harus sesuai dengan aturan yg udah di atur dalam Islam.

      Balas
  • 44. Chiemotz  |  24 Februari 2011 pukul 8:57 pm

    Ass…
    Kalo cincin cowokny dari platinum boleh kah???
    Saya pernah dengar katany cowok gak boleh pake cincin dr emas tapi kalo emasny udah dicampur dengan logam lain jadi boleh??? Gmn tuh bang???
    Wass…

    Balas
    • 45. Herman S.Y  |  26 Februari 2011 pukul 10:11 pm

      @Chiemotz:

      Walaikum salam warahmatullah….

      cincin terbuat dari platinum, kalau tidak salah ya (“hehehhe mudah2an ga salah, tapi kalau salah mau gimana lagi… :-p “), cowok di perbolehkan memakai cincin yg terbuat dari platinum…
      Nah kalau ada cincin emas yg di campur dengan bahan lain? hmmmmm….. :-)

      Balas
  • 46. Budi bumiayu  |  28 Maret 2011 pukul 6:42 pm

    cewek boleh make cincin emas, knp cowok gak boleh..? kalo alasn gaya hidup kynya gak mantep, krn cewek en cowok jg sm gak boleh berlebihan. kalo dikatakan mirip cewek jg gak mantep, gue kan jelas perkasa en jantan. coba minta alasn yg mantep (logis), jangan dlu pake uswah saw. ada gak?

    Balas
    • 47. Herman S.Y  |  10 Mei 2011 pukul 7:31 am

      @Budi bumiayu yang dimuliakan Allah SWT….
      Umat muslim mempunyai tuntunan hidup, yaitu Al Quran dan Hadist.

      Jikalau umat muslim tidak menggunakan tuntunan tersebut, berarti menggunakan alasan2 yang berdasarkan logika ataupun kebiasaan2 yg bukan berasal dari Islam itu sendiri. Logika dan Kebiasaan tersebut akan mengakibatkan munculnya keraguan-keraguan dan hal tersbut akan lebih mudah di goda hawa nafsunya.

      Nah, sekarang, coba anda berikan alasan2 yg logis mengenai penjelasan (paragraf kedua) diatas…??? (^_~)

      Balas
  • 48. riani  |  27 Juli 2011 pukul 4:53 pm

    ass. .*
    mau tanya ni pak?*
    cowk jg g boleh yah pk cincin emas putih?
    kalo pk cincin mas kuning kan g boleh,sya mau gantingya dngn mas putih. .bolh g?

    Balas
    • 49. Herman S.Y  |  13 September 2011 pukul 3:16 pm

      @riani:
      Sepertinya emas putih masih dalam 1 kandungan, yaitu berbahan emas.
      Kenapa tidak mencoba dengan berbahan perak, ataupun titanium?

      Semoga bermanfaat.
      Jazzakumullah… ^_^

      Balas
  • 50. mickey andrian  |  13 September 2011 pukul 2:52 pm

    hmmm… saya kadang masih merasa bingung dengan adat2 dari beberapa suku di indonesia, kadang ada juga yang “ngotot” kalo perkawinan itu harus identik dengan “cincin” trus ngotot juga kalo cowoknya juga harus pakai cincin dengan alasan “kalo cincin perkawinan itu boleh kok dipakai sama cowok (meskipun terbuat dari emas)”…
    saya berasal dari suku yang berbeda dengan calon istri saya, sedangkan dalam suku saya seorang laki2 itu dilarang keras menggunakan perhiasan (khususnya yang terbuat dari emas)…
    trus 1 lagi, menurut suku saya pemberian cincin itu hanyalah sebagai additional accessories, semampunya, seikhlasnya, tapi buat suku yang lainnya harus dipatok beberapa gram gitu…
    yah kalo saya kaya sih bisa saya belikan yang 10 ato 20 gram gitu, tapi saya miskin e…
    kalo saya gk sanggup beliin cincin yang “sesuai” dengan kriteria gimana? masak saya harus nuggu sampe tua baru nikah (kan sama sekali ndak lucu sangat itu)
    hmmm… seperti sebuah proverb dari entah siapa gitu:
    “when one person suffers from delusion it is called insanity, when many people suffer from delusion it is called religion”
    hmmm….
    i just wondering how to treat them all????

    Balas
    • 51. Herman S.Y  |  13 September 2011 pukul 3:14 pm

      @mickey andrian:
      Saran terbaik yang pernah saya terima adalah:
      “Berserah diri kepada Allah, dan meminta petunjuknya, semoga di berikan kemudahan dan kesabaran dalam menjalani segala cobaan…”

      Jazzakumullah… ^_^

      Balas
  • 52. jay9pa  |  14 Januari 2012 pukul 10:18 pm

    intinya,memberikan cincin kawin pada istri dalam islam boleh ya Cak???suwun,,

    Balas
    • 53. Herman S.Y  |  18 Februari 2012 pukul 12:04 pm

      @jay9pa:
      Boleh2 saja… tergantung modal… :-p

      Balas
  • 54. erlina  |  20 Maret 2012 pukul 9:31 am

    apa benar mahar yang d berikan suami itu harus habis dalam waktu 24 jam?

    Balas
    • 55. Herman S.Y  |  2 September 2012 pukul 8:48 am

      @erlina:
      Itu kalo maharnya berupa makanan (yg cepat basi)… ;)
      Jika maharnya berupa uang Rp. 100.000.000,-, masa harus habis dalam waktu 24 jam…??? :-P

      Balas
  • 56. icha  |  26 Agustus 2012 pukul 8:56 pm

    ass..
    afwan,sy mw tny,apabila sy mjual cincin yg pnah dberikan suami dlu pas nkah brarti gpp ya?
    mks.
    wass..

    Balas
    • 57. Herman S.Y  |  2 September 2012 pukul 8:22 am

      @icha :
      Walaikum salam warahmatullah…
      Tidak apa-apa, tetapi alangkah baiknya jika dibicarakan terlebih dahulu dengan suaminya. ;)

      Balas
  • 58. aji  |  17 November 2012 pukul 11:52 am

    klo calon laki-laki memakai cincin dr titanium boleh tidak???

    Balas
    • 59. Herman S.Y  |  24 Januari 2013 pukul 8:38 am

      @Aji: Setahu saya boleh, selama tidak mengandung berbahan emas… ;)

      Balas
  • 60. mitsuow  |  23 Januari 2013 pukul 4:54 pm

    assalamualaikum pak,,
    mohon maaf mau munta informasi dikit soal cincin petnikawan itu.

    pertama, soal laki laki dilarang memakai perhiasan khususnya emas, sya sudah baca td sebabnya yg larangan hidup bermewah2an atw identik dengan pamer/sombong. mohon maaf, bukankah sifat yg seperti itu gk spenuhnya ada di setiap diri orang. mungkin ada dengan memakai cincin kawin (emas) hanya smata2 untuk (katakanlah tambahan tnpa maksut yg bermewah2an). klo masalah cincin buat tameng biar gk selingkuh saya juga kurang stuju. tp yg saya tanyakan bukan itu. yg d atasnya

    kedua, apakah segala pernikahan itu harus sama dengan yg dilakukan Rosulluwoh SAW( tata cara)?
    bukankah yg di sunahkan itu menikahnya saja(dalam Islam)?

    yg terakhir, semua ilmu berasal dari islam, dan anda mengatakan Albert eiaten itu pencuri yg mengklaim ilmu islam, knapa dia anda sebut pencuri? apa karna dia bukan muslim?
    mohon maaf sebelumnya.
    kalo menurut saya gk perlu memfonis yg sperti itu,

    klo kita percaya sesuatu d dunia ini dari Allah SWT, alangkah baiknya kita percaya yg di dapatkan seorang Albert eisten itu Darri Allah SWT, meskipun dia bukan Muslim.
    bukankah kita percaya seluruh manusia dan alam ciptaan Allah SWT, knp kita berfikir orang yg bukan muslim itu golongan lain yg mencuri milik kita? malah semrawut kan???
    mohon maaf sebelumnya, saya suka bingung masalah beginian makanya agak cerewet hehehehe :)

    Balas
    • 61. Herman S.Y  |  24 Januari 2013 pukul 8:36 am

      @mitsuow:

      Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh…

      #1. laki laki dilarang memakai perhiasan khususnya emas
      Mengenai hal tsb sudah banyak hadist yang membahasnya, bahkan “kain sutra” pun laki2 dilarang memakainya (Ada hasitnya kok).
      Nah, mengenai cincin emas, bukan berarti laki2 tidak di perbolehkan memakai cincin, karena Nabi Muhammad SAW pun memakai cincin yang bukan terbuat dari emas. ^_^

      2. Yang “Wajib” dalam pernikahan adalah mengikuti semua “Rukun-rukun pernikahan”, sedangkan untuk “Sunnah (tidak di wajibkan)” adalah tata cara dalam hal adat istiadat. ^_^

      3. Hehehehehe… itu pernyataan saya dulu waktu jaman jahiliyah… :p (padahal ampe skr pun saya masih di jaman jahiliyah…) ^_^
      Mungkin kesimpulannnya begini:

      “Segala sesuatu yg bukan milik kita, kemudian kita meng-klaim bahwa sesuatu tsb milik kita, bukan kah itu sama saja dengan mencuri? :p
      Nah bagi saya, vonis “mencuri” bkn berarti saya membenci, hanya saja saya tidak menyukai “caranya”. ;)

      Jadi, hal tsb jng dibikin semrawut, nantinya anda malah ikutan semrawut… :p

      Trims tuk partisipasinya, jng bosen2 ya… ^_^
      Jazzakumullah hamdan katsiran… ^_^

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Assalammu’alaikum…

"Raihlah ilmu yg bermanfaat walaupun hanya 1 kalimat..."


benderaindonesia

Ads

chat me on Y!M

WebLogz Stats

  • 149,778 visitors since Dec 2008

Jejak Pengunjung

   
   Users online...

IP

Weblogs Rank


Powered by  MyPagerank.Net

My Popularity (by popuri.us)

WebLogz Traffic

free counters

Weblogz Sponsor

Teng-Qyu

Makasih banyak ya dah mampir ke blog-ku, Mudah-mudahan ga bosen ya... (^o^) ...

Tampilan terbaik menggunakan Mozilla Firefox 1024x768

friendly-blogger-award-2009
Thanx to Mas Won Bin
["Wong Bingungan"]



© Dec 2008 Herman S.Y Indonesia

Jng Lupa Commentnya ya... biggreen

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: